GEORGIA VS RUSSIA / AS VS RUSSIA ???

GEORGIA VS RUSSIA / AS VS RUSSIA ???

24 08 2008

Banyak pihak menilai perang di Kaukasus adalah ”kemenangan” bagi Rusia. Barat tampaknya tidak berkutik menghadapi tindakan keras Rusia saat mengerahkan pasukan ke tetangganya, Georgia, setelah Georgia menyerbu Ossetia Selatan. Benarkah genderang ”Perang Dingin baru” telah ditabuh?

Media-media Eropa menyebutkan bahwa garis Perang Dingin antara Rusia dan Barat tengah digambar ulang. Para analis menilai pecahnya konflik antara Rusia dan Georgia adalah titik balik geopolitik terbesar sejak bubarnya Uni Soviet tahun 1991. Konflik Rusia-Georgia dipastikan mengubah tatanan internasional di masa-masa mendatang.

Bermula dari serbuan pasukan Georgia ke Ossetia Selatan pada 7 Agustus lalu, beberapa jam setelah Presiden Georgia Mikhail Saakashvili menyatakan gencatan senjata sepihak. Ossetia Selatan, yang tidak pernah merasa menjadi bagian dari Georgia dalam banyak hal, memerdekakan diri melalui perang tahun 1991-1992, tetapi tidak pernah diakui oleh masyarakat internasional.

Dua hari setelah Georgia membombardir Ossetia Selatan, Rusia mengerahkan pasukan ke provinsi tersebut. Alasannya, melindungi warga negara Rusia. Lebih dari 70 persen penduduk Ossetia Selatan memegang paspor Rusia. Rusia juga menempatkan pasukan penjaga perdamaian di Ossetia Selatan.

Isu Ossetia Selatan telah membuat hubungan Rusia-Georgia tegang sejak Georgia memerdekakan diri tahun 1991 menyusul bubarnya Uni Soviet. Georgia langsung berafiliasi ke Barat, sesuatu yang tidak disukai Rusia, terlebih saat Georgia berkeinginan untuk bergabung dengan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

Profesor Stefan Wolff dari University of Nottingham dalam artikel di Atlantic Review menyebutkan, sejak Ossetia Selatan memerdekakan diri, situasi di pegunungan Kaukasus itu terbilang ”tidur”. Sesekali pecah bentrokan antara tentara Georgia dan gerilyawan Ossetia Selatan, tetapi selebihnya tenang. Itulah sebabnya banyak pihak heran mengapa begitu cepat konflik di Georgia berubah menjadi konflik antara Rusia dan Barat.

Setelah merasa ”cukup”, Rusia menarik pasukannya dari kota Gori, yang diduduki Rusia setelah berhasil mengusir Georgia dari Ossetia Selatan, 22 Agustus. Rusia telah memenuhi misinya untuk menunjukkan kepada dunia bahwa untuk tidak macam- macam dengan negara yang tengah bangkit ini.

Melunasi utang

Gleb Pavlosky, penasihat mantan Presiden Rusia Vladimir Putin, kepada BBC, mengatakan, kepemimpinan di Rusia telah menyimpulkan bahwa setelah Revolusi Oranye di Ukraina, Moskwa ingin mencegah hal serupa terjadi lagi. Rusia menganggap Ukraina dan Georgia, yang juga mengalami Revolusi Mawar yang memenangkan Saakashvili, sebagai pengaruh buruk di kawasan.

Fakta bahwa Georgia didukung Barat membuatnya menjadi sasaran empuk. Kesalahan Saakashvili adalah terlalu percaya diri bahwa Barat akan berada di belakangnya. Rupanya, dia salah perhitungan karena Barat hanya bisa bersuara keras tanpa bisa bertindak lebih jauh.

Rusia memanfaatkan retorika Barat yang disebut intervensi kemanusiaan dan Barat termakan ucapannya sendiri. Dengan alasan serupa, Barat mendukung kemerdekaan Kosovo dari Serbia.

Majalah The Economist edisi 16 Agustus menyebutkan bahwa Rusia kini telah menggambar garis merah tebal di atas peta Eropa di mana Barat dan NATO tidak bisa menyeberang. Rusia mencoba ”melunasi” utang kekalahan saat berakhirnya Perang Dingin tahun 1990, menjawab pengeboman NATO di Belgrade tahun 1999 dan invasi AS ke Irak tahun 2003. ”Jika kalian bisa, kami juga bisa” menjadi logis.

Namun, Barat bukannya tidak bisa berbuat apa-apa. Menteri Luar Negeri Inggris David Miliband menyatakan hubungan dengan Rusia harus dipikir ulang. NATO telah memutuskan, ini adalah akhir dari ”bisnis seperti biasanya”. Ambisi Rusia untuk bergabung dengan badan- badan dunia berpengaruh, seperti WTO dan OECD, menjadi taruhan. Bahkan, G-8 telah rela mendepak Rusia.

Gencatan senjata kini telah berlaku kendati masih rentan dan bisa pecah sewaktu-waktu. Kini, apa yang bisa diperbuat saat dunia memasuki fase baru?

Faktanya adalah Barat memerlukan Rusia dan Rusia memerlukan Barat. Rusia ingin terintegrasi dalam sistem ekonomi dunia dan dianggap sebagai mitra diplomatik yang serius. Sementara itu, Barat memerlukan Rusia dalam konfrontasi dengan Iran atau Sudan.

Mantan Menlu Inggris Lord Owen mengatakan sangat absurd untuk memperlakukan Rusia seperti Uni Soviet. Rusia lebih siap, tidak hanya secara militer, tetapi juga secara ideologis. Dukungan Rusia terhadap separatis di Ossetia Selatan dalam menghadapi dukungan Barat terhadap Georgia kian menegaskan permainan perang proxy di era Perang Dingin mulai dimainkan. Seluruh dunia kini harus mulai bersiap.

About these ads

Poster un commentaire

Pas encore de commentaire.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s

Suivre

Recevez les nouvelles publications par mail.