Konflik di Ossetia Selatan(dw-world.de)

Politik dan Ekonomi | 12.08.2008

Konflik di Ossetia Selatan

Eskalasi di Kaukasia Selatan pekan lalu adalah kelanjutan dari krisis berkepanjangan di kawasan tersebut. Yakni sejak Ossetia Selatan dan Abkhazia melepaskan diri dari Georgia awal tahun 1990-an.

Di utara, Ossetia Selatan berbatasan dengan Ossetia Utara yang masuk wilayah Rusia, di Selatan dengan Georgia. Kawasan yang terletak di Selatan Kaukasia ini, memiliki wilayah sekitar 4000 kilometer persegi, dengan ibukotanya Tskhinvali.  Bahasa warga Ossetia adalah Persia, seperti yang biasa digunakan di Iran. Selain itu di Ossetia Selatan, bahasa Rusia menjadi bahasa resmi kedua. Kebanyakan penduduk Ossetia Selatan memiliki kewarganegaraan Rusia.

Ketika tahun 1990 Ossetia Selatan memproklamasikan kedaulatannya, milisi Georgia melakukan serbuan. Moskow juga.mengirimkan pasukan yang mendukung pihak Ossetia Selatan. Perang itu menyebabkan sekitar 100 ribu warga Ossetia melarikan diri dari Georgia dan Ossetia Selatan ke Rusia, sekitar 20 ribu warga Georgia ke Georgia. Jika tahun 1989 penduduk Ossetia Selatan masih 165 ribu orang, saat ini jumlahnya kira-kira tinggal separuhnya.

Secara resmi provinsi yang September 1991 menamakan dirinya Republik Ossetia Selatan, masih termasuk Georgia, seperti halnya provinsi Abkhazia yang juga melepaskan diri dari Georgia. Namun keduanya mendapat dukungan dari Rusia dan secara ekonomi tergantung pada Rusia. Georgia menuduh Rusia hendak melakukan aneksasi terhadap kedua kawasan tersebut dan menghindari upaya keanggotaan Georgia ke dalam NATO. Tuduhan Georgia terhadap Rusia juga dilancarkan setelah pecahnya bentrokan senjata pekan lalu. Seolah-olah tidak  melakukan serangan terhadap provinsinya yang membelot itu dalam konferensi pers Sabtu (09/08) lalu, Presiden Mikheil Saakashvili menyampaikan kepada para wartawan Barat, bahwa negaranya menjadi korban invasi Rusia

„Hari ini Rusia melancarkan serangan total terhadap Georgia. Aparat keamanan Rusia menyerang sebuah negara berdaulat, lewat laut, darat dan dari udara. Perang ini bukan menyangkut Ossetia Selatan, itu tidak pernah menjadi alasan utama. Serangan ini lebih sebagai serangan terhadap negara kecil yang demokratis, yang ingin hidup dengan damai dan bebas.“

Sebenarnya untuk masalah Kaukasia Selatan bulan Juni 1992 telah berlangsung penandatanganan perjanjian gencatan senjata antara Presiden Rusia Boris Yelzin dan Presiden Georgia Eduard Schevardnadse. Sejak itu di sana ditempatkan pasukan perdamaian dari Rusia, Ossetia dan Georgia. Perjanjian gencatan senjata itu kembali diperbaharui tahun 2004. Tahun 2005 presiden baru Georgia, Saakashvili yang menggantikan Schevardnadse, mengusulkan kekuasaan otonomi Ossetia Selatan di bawah negara Georgia. Hal ini ditolak oleh Ossetia Selatan.

Status Ossetia Selatan dan Abkhazia

Status Ossetia Selatan dan Abkhazia tidak jelas. Secara hukum internasional, kedaulatan keduanya tidak diakui secara resmi. Tapi pimpinan di kedua kawasan itu  berusaha mewujudkannya dengan menggelar pemilihan umum. Henning-Schröder dari Studi Keilmuan dan Politik Berlin untuk masalah Kaukasia

« Kedua republik melakukan pemilihan umum dan memiliki presiden terpilihnya. Mereka juga berusaha untuk melakukan perundingan dan paling tidak di Moskow mereka menemukan mitra bicara untuk itu.”

Dari segi ekonomi tidak banyak yang ditawarkan Ossetia Selatan. Tingkat penganggurannya mencapai 60 persen. Lahan pertaniannya hanya menghasilkan sedikit buah-buahan, gandum dan anggur. Bahkan terdapat desas-desus, kawasan pegunungan di Kaukasia itu merupakan jalur transit penyelundupan senjata dan obat bius. Tapi dapat dimengerti bila Georgia tetap ingin mempertahankan kesatuannya. Jika membiarkan Ossetia Selatan merdeka, ini berarti Georgia juga harus rela melepaskan Abkhazia, provinsi lainnya yang juga ingin melepaskan diri darinya. Dimana secara ekonomis dan strategis Abkhazia memiliki arti penting. Inilah sumber masalahnya. Di belakang konflik Ossetia Selatan tersembunyi kepentingan politik internasional. NATO, Amerika Serikat, Rusia dan Uni Eropa semua terlibat dalam masalah. Ini juga yang menyebabkan Dewan Keamanan PBB dalam sidang istimewanya tidak berhasil mencapai kata sepakat dalam mengatasi konflik di Kaukasia tersebut.

Presiden Amerika Serikat George W. Bush dengan jelas menyatakan minat besar keanggotaan Georgia ke dalam NATO. Yang melihat nilai lokasi strategis negara kecil di Kaukasia itu. Kaukasia, khususnya Georgia adalah negara transit penting bagi minyak dan gas bumi dari kawasan di sekitar Laut Kaspia. Pemerintah di Tblisi menyambut gagasan tersebut dan mengharapkan bantuan secara luas dari pihak Washington. Terutama di bidang ekonomi dan militer, tapi juga jaminan perlindungan terhadap bekas saudara senegaranya Rusia.

Rusia menentang keanggotaan Georgia ke dalam NATO. Moskow tidak senang keberadaan pakta pertahanan Atlantik Utara itu tepat berada di perbatasannya, juga tidak dengan penempatan stasiun penangkal rudal di Polandia dan Ceko. Itu yang menyebabkan Rusia membantu perjuangan kemerdekaan Ossetia Selatan dan Abkhazia melawan Georgia. Sehubungan serangan yang dilancarkan Georgia terhadap Ossetia Selatan pekan lalu Perdana Menteri Rusia, Vladimir Putin menyebutnya sebagai pembunuhan massal. Sabtu malam, Putin meninjau langsung situasi para pengungsi di Vladikavka, di Ossetia Utara. Dari pembicaraannya dengan para pengungsi Putin menyampaikan keprihatinan mendalam saat bertemu dengan Presiden Rusia Medvedev hari Minggu (10/08) di Kremlin

“Secara jujur saya harus mengatakan saya sangat prihatin. Terutama para perempuan, orang tua dan anak-anak berada dalam kondisi yang sangat buruk. Ini tragedi besar. Apa yang mereka ceritakan kepada kami tentang hal yang mereka alami, semua itu melebihi batas yang kami mengerti tentang definisi tindakan perlawanan. Menurut pendapat saya hal itu lebih tampak seperti genosida. »

Tapi korban tewas dan luka-luka serta pengungsian tidak hanya terjadi di Ossetia Selatan. Di Abkhazia perlawanan juga dilakukan. Dan dalam dukungan militernya, Rusia juga membombardir pangkalan udara militer di dekat ibukota Georgia Tblisi. Rusia juga memiliki kepentingan penting untuk mengawasi wilayah tersebut guna menjamin akses energinya untuk jangka panjang.

Laisser un commentaire

Aucun commentaire pour l’instant.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s