Perang Antara Rusia Dan Georgia Karena Korban Geopolitik Dari Amerika Serikat Dan Uni Eropa

Perang Antara Rusia Dan Georgia Karena Korban Geopolitik Dari Amerika Serikat Dan Uni Eropa

11 08 2008

Samuel P Huntington, profesor di Universitas Harvard, AS, pernah mengatakan, sebuah perang bisa terjadi antara pemerintah dan salah satu kelompok etnisnya. Kelompok etnis itu bisa saja mencari perlindungan dari negara lain, yang dianggap berada dalam satu kelompok etnis.

Inilah yang lebih kurang terjadi di Georgia (didominasi etnis Georgia) dengan etnis Ossetia yang menghuni Ossetia Selatan, yang cenderung bergabung dengan Ossetia Utara (Rusia).

Konflik hanya bisa diatasi, salah satunya, dengan meminta tolong etnis Ossetia Utara atau Rusia. Persoalannya, Rusia gusar terhadap Georgia yang cenderung memilih dekat ke Uni Eropa dan AS. Rusia makin jengkel dengan keinginan Georgia bergabung dalam Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), sebagaimana diutarakan Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin.

Setelah kecewa dan memendam rasa sakit hati selama dekade 1990-an, ketika Uni Soviet ambruk, dan satu demi satu eks Uni Soviet menjadi anggota Uni Eropa, bahkan ada yang menjadi anggota NATO, Rusia merasa dipermalukan dan dikepung. Rusia tak berdaya karena terjadi pada dekade 1990-an saat ekonomi dan militernya hancur.

Kebangkitan ekonomi dan militer Rusia, mulai dekade 2000-an, membalikkan keadaan. Rusia tidak bisa lagi menerima penggerogotan pengaruh yang terus dilakukan Barat atas halaman belakangnya.

Ini terkait soal geopolitik dan rasa nyaman. Rusia merasa bemper pengamanan negaranya sudah dihabisi, kecuali Asia Tengah yang masih memilih dekat ke Rusia. Persoalan bagi Georgia terjadi dengan uang berlimpah milik Rusia, yang memberikan kehidupan lebih baik bagi warga Ossetia ketimbang yang diberikan Georgia.

Salah taktik

Benar bahwa tindakan Rusia di Ossetia Selatan makin menjengkelkan karena mencoba melakukan propaganda bahwa dekat ke Rusia berarti sebuah kemakmuran. Politisi Jerman, Gernot Erler, mengatakan, Rusia terus menanamkan pengaruh di Ossetia Selatan dari segi ekonomi, politik, dan harga diri.

Jelas Rusia salah dan tindakannya menyerang Ossetia adalah pelanggaran besar atas kedaulatan Georgia. Presiden Rusia Dmitry Medvedev mengatakan, serangan itu bertujuan membuat Georgia mempertahankan perdamaian di Ossetia dan Abkhazia, dua provinsi separatis.

Namun, Rusia memiliki legitimasi melakukan itu demi kepentingan geopolitiknya, sebagaimana AS melakukan hal serupa di Irak. Jika AS bisa semena- mena di negara lain, mengapa Rusia tidak. Inilah buah kegagalan kebijakan luar negeri AS. Dunia berteriak, tetapi faktor geopolitik sangat berperan.

Dalam hal ini, bisa dikatakan, Presiden Georgia Mikhail Saakashvili kurang taktis. Mempertahankan kedaulatan wilayah tak perlu dengan serangan militer, membuat Rusia marah. Saakashvili tak menyadari faktor geopolitis itu. Atau, caranya kurang taktis karena memilih berseteru dengan Rusia daripada merangkulnya demi keutuhan Georgia.

Laisser un commentaire

Aucun commentaire pour l’instant.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s